internet slang and language evolution

bagaimana kata gaul internet masuk ke kamus resmi

internet slang and language evolution
I

Pernahkah kita tiba-tiba merasa terasing di ruang tamu sendiri, tepatnya saat mendengar adik, anak, atau keponakan sedang asyik bercerita? Tiba-tiba saja meluncur kata-kata seperti skibidi, rizz, salty, atau FOMO. Reaksi pertama kita mungkin mengernyitkan dahi. Reaksi kedua, diam-diam kita merogoh ponsel dan mencari arti kata-kata itu di Google agar tidak terlihat terlalu tertinggal. Kita sering kali menganggap bahasa gaul internet ini hanyalah fase numpang lewat. Sebuah tren konyol yang akan menguap bersama bergantinya musim algoritma TikTok. Namun, ada satu momen yang biasanya sukses membuat kita terbelalak: saat kata-kata yang kita anggap receh itu resmi masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) atau Oxford English Dictionary. Tiba-tiba saja, kata cringe atau pansos duduk berdampingan dengan kata-kata agung seperti "budaya" dan "karsa". Bagaimana mungkin bahasa meme yang lahir dari ketikan iseng pukul dua pagi bisa mendapatkan legitimasi sekelas kamus resmi?

II

Sebelum kita buru-buru menuduh bahwa internet telah merusak kesucian bahasa, mari kita mundur sejenak dan melihat pola sejarahnya. Sedari dulu, generasi yang lebih tua selalu punya hobi mengeluhkan cara bicara generasi muda. Pada abad ke-14, para tetua di Inggris mengeluh karena anak muda saat itu terlalu banyak meminjam kosakata dari bahasa Prancis. Di Indonesia era 80-an, orang tua juga geleng-geleng kepala mendengar bahasa prokem seperti bokap dan nyokap. Jadi, evolusi bahasa itu bukan hal baru. Ia adalah proses alami. Bedanya, internet bertindak layaknya mesin pedal gas yang diinjak penuh. Dulu, butuh waktu puluhan tahun agar kata slang dari satu tongkrongan di Jakarta bisa menyebar ke luar pulau. Sekarang? Sebuah kata yang diciptakan oleh seorang gamer di kamar kosnya hari ini, bisa digunakan oleh jutaan orang di seluruh dunia kurang dari dua puluh empat jam. Kecepatan inilah yang membuat kita kewalahan dan menciptakan ilusi seolah-olah bahasa kita sedang "rusak" secara massal.

III

Lalu, bagaimana sebenarnya mekanisme psikologis di balik meledaknya sebuah kata gaul? Manusia adalah makhluk sosial yang selalu butuh validasi identitas kelompok. Secara psikologis, bahasa gaul atau slang berfungsi sebagai "kata sandi" suku digital kita. Saat kita menggunakan kata red flag atau toxic, kita sedang memberi sinyal: "Saya bagian dari kelompok kalian, saya paham konteks budayanya." Namun, pertanyaan terbesarnya belum terjawab. Jika jutaan kata gaul diproduksi internet setiap harinya, siapa yang menyaringnya? Apakah ada dewan rahasia berisi ahli bahasa berjas rapi yang duduk di ruangan kedap suara, berdebat panas hanya untuk menentukan apakah kata ghosting layak masuk kamus tahun ini? Imajinasi ini mungkin terdengar seru, tapi realitas ilmiahnya justru jauh lebih menarik dan sangat bergantung pada bagaimana otak kolektif kita bekerja.

IV

Inilah rahasia terbesarnya: ahli perkamusan, atau yang secara ilmiah disebut leksikografer, sebenarnya tidak bertugas mendikte bahasa. Pekerjaan mereka bukanlah sebagai polisi penjaga gerbang, melainkan sebagai ilmuwan yang mengobservasi alam liar. Kamus modern bersifat deskriptif, bukan preskriptif. Artinya, kamus mencatat bagaimana bahasa sedang digunakan oleh masyarakat, bukan mengatur bagaimana bahasa harus digunakan. Untuk bisa masuk ke kamus resmi, sebuah kata gaul harus lolos seleksi alam yang sangat ketat melalui tiga kriteria metrik ilmiah. Pertama adalah frekuensi; seberapa sering kata itu muncul dalam percakapan sehari-hari, artikel berita, hingga literatur. Kedua adalah ubikuitas; kata tersebut tidak boleh hanya dipakai di satu circle saja, ia harus menembus berbagai lapisan demografi dan platform. Ketiga, dan yang paling sulit, adalah umur panjang. Mayoritas bahasa gaul mati dalam hitungan bulan. Namun, jika sebuah kata bertahan selama beberapa tahun karena berhasil mengisi "kekosongan leksikal"—yakni mampu mendeskripsikan suatu emosi atau situasi spesifik yang belum ada padanan katanya—maka kata itu akan menang. Kata curhat, misalnya, masuk ke kamus karena tidak ada satu pun kata baku yang secara akurat bisa menangkap esensi "mencurahkan isi hati" dengan kepraktisan yang sama.

V

Pada akhirnya, melihat evolusi bahasa internet bukanlah tentang meratapi hilangnya bahasa baku yang kaku. Sebaliknya, ini adalah tentang merayakan kreativitas pikiran manusia. Setiap kali sebuah kata gaul internet berhasil menembus halaman kamus resmi, kita sedang menyaksikan sejarah kognitif yang sedang ditulis. Kata-kata itu adalah monumen kecil dari apa yang sedang kita rasakan, kita cemaskan, dan kita tertawakan bersama di era digital ini. Jadi, teman-teman, mari kita sedikit berdamai dengan perubahan ini. Bahasa bukanlah artefak rapuh yang harus disimpan di dalam etalase kaca museum. Bahasa adalah organisme hidup. Ia bernapas, ia tumbuh, dan terkadang, ia berdandan sedikit aneh mengikuti perkembangan zaman. Dan justru di situlah letak keindahannya yang paling otentik.